Aplikasi Android

3 Aplikasi Android Terbaik & Terpopuler Buatan Indonesia 2021

3 Aplikasi Android Terbaik & Terpopuler Buatan Indonesia 2021 – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan pengguna Android terbanyak di dunia. Tidak hanya pengguna, Indonesia juga telah melahirkan banyak developer sukses yang berhasil membuat game dan aplikasi Android terpopuler.

3 Aplikasi Android Terbaik & Terpopuler Buatan Indonesia 2021

Sumber : mediablitar.pikiran-rakyat.com

surl – Aplikasi besutan developer Indonesia ini tidak hanya digunakan oleh orang Indonesia saja, tetapi juga digemari oleh pengguna di negara / wilayah lain. Jenis aplikasinya juga berbeda, mulai dari aplikasi berita, toko online, kamus online, mobile banking hingga game untuk mengasah ilmu.

Karena itu, Carisinyal akan mengulas daftar aplikasi yang paling banyak diunduh buatan Indonesia di Google Play store kali ini. Aplikasi yang masuk dalam daftar ini hanyalah aplikasi buatan developer Indonesia, bukan aplikasi bertema Indonesia, melainkan aplikasi buatan developer asing.

Jika Anda penasaran dan ingin menggunakan aplikasi buatan Indonesia, maka Anda mengakses artikel yang tepat. Pasalnya, kami mengumpulkan beberapa aplikasi populer yang dikembangkan oleh developer Indonesia.

1. Gojek

Sumber : blog.gojekengineering.com

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, menjalankan bisnis sebagai Gojek (dalam huruf kecil semua sebagai gojek, sebelumnya disebut sebagai GO-JEK), adalah platform layanan multi-layanan on-demand Indonesia dan grup teknologi pembayaran digital yang berbasis di Jakarta. Gojek pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 2009 sebagai call center yang menghubungkan konsumen dengan layanan pengiriman kurir dan layanan pemesanan kendaraan roda dua. Gojek meluncurkan aplikasinya pada tahun 2015 hanya dengan empat layanan: GoRide, GoSend, GoShop, dan GoFood. Dengan nilai US $ 10 miliar saat ini, Gojek telah berubah menjadi Super App, menyediakan lebih dari 20 layanan.

Gojek beroperasi di Indonesia, Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina (melalui akuisisi Coins.ph). Gojek adalah perusahaan unicorn Indonesia pertama, sekaligus perusahaan “decacorn” pertama di negara itu. Merupakan satu-satunya perusahaan di Asia Tenggara yang termasuk dalam 50 Perusahaan Fortune yang Mengubah Dunia pada tahun 2017 dan 2019, masing-masing berada di peringkat 17 dan 11. Pada Juni 2020, ia memiliki sekitar 170 juta pengguna di seluruh Asia Tenggara.

Gojek telah memenangkan dukungan finansial dari investor termasuk Astra International, blibli.com, Google, Facebook, PayPal, Mitsubishi, Sequoia, Northstar Group, sovereign wealth fund Singapura Temasek Holdings, KKR, Warburg Pincus, Visa, Parallon, Siam Commercial Bank, internet China raksasa Tencent, JD.com, meituan.com, Capital Group,

Sejarah

Nama Gojek berasal dari istilah “Ojek” atau ojek yang umum ditemukan di seluruh Indonesia. Didirikan pada 2009 dengan 20 pengemudi sepeda motor, armadanya kini melebihi 1 juta pengemudi dan menawarkan 18 layanan berdasarkan permintaan berdasarkan aplikasi per Mei 2018. Aplikasi Gojek diluncurkan pada Januari 2015, dan dalam waktu kurang dari dua tahun, aplikasi tersebut telah diunduh hampir 30 juta kali. Gojek telah bermitra dengan bank DBS terbesar di Singapura.

Gojek didirikan bersama oleh Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran. Nadiem, penduduk asli Indonesia, memiliki gelar dari Brown University dan Harvard Business School. Ia bekerja di konsultan McKinsey and Co. selama tiga tahun sebelum memulai Gojek dari sebuah pusat panggilan kecil dengan hanya 20 pengemudi ojek, yang kemudian menjadi perekrut.  Sebagai pengguna ojek yang setia, Nadiem menemukan bahwa para pengemudi ojek lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menunggu pelanggan, sementara pelanggan membuang waktu untuk berkeliling mencari ojek yang tersedia. Gojek dibangun untuk mengatasi masalah ini, dengan menyediakan platform di mana pengemudi dan pengendara dapat terhubung secara efisien dan memungkinkan pengemudi tersebut untuk meningkatkan pendapatan mereka. Salah satu pendiri dan teman lama SMA lainnya, Michaelangelo Moran, selain menjabat sebagai Direktur Merek perusahaan, juga dikenal karena mendesain logo ikonik pertama perusahaan dan merek seluruh perusahaan.

Mulai Mei 2018, aplikasi ini menawarkan 18 layanan, dengan 2 layanan baru yang akan datang dalam bisnis konten online, yang menghasilkan total 20 layanan sesuai permintaan di bawah satu platform. Menjadi perusahaan rintisan yang dijalankan di Indonesia memanfaatkan keuntungan Gojek dalam menavigasi lingkungan peraturan lokal, serta memahami pasar lokal. Hal ini memungkinkan mereka untuk menggabungkan fitur ke dalam aplikasinya yang lebih sesuai dengan pengemudi lokal dan konsumen lokal. Gojek merekrut 100 lulusan baru di bidang teknik dari India pada tahun 2017.

Pada 17 Maret 2020, Gojek menerima $ 1,2 miliar, sehingga total pendanaan untuk putaran Seri-F-nya menjadi hampir $ 3 miliar. Pada tahun yang sama, perusahaan meluncurkan GoStore, sebuah solusi yang membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal mendirikan toko online dengan mudah.

2. Tokopedia

Sumber : techinasia.com

Mungkin hampir semua pengguna Android di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan aplikasi ini bukan? Ya, Tokopedia adalah salah satu aplikasi terpopuler. Menariknya, lamaran itu juga diajukan di Indonesia. Nah, Tokopedia sendiri merupakan aplikasi belanja online tempat kamu bisa berbelanja, baik itu elektronik, pakaian, kosmetik atau barang lainnya.

3. Bukalapak

Sumber : ttbpartners.com

Bukalapak merupakan salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia. Didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Muhamad Fajrin Rasyid pada tahun 2010, Bukalapak awalannya merupakan toko daring yang terlalu mungkin para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk merambah ke dunia maya. Perusahaan berikut kini udah jalankan ekspansi ke bermacam lini usaha lain, terhitung menunjang menaikkan penjualan para warung tradisional lewat sarana Mitra Bukalapak. Pada tahun 2017, Bukalapak menjadi salah satu startup unikorn asal tanah air.

Pada tahun 2019, Bukalapak udah punyai lebih dari 4,5 juta pedagang online, 70 juta pengguna aktif bulanan, 1,9 juta mitra warung, dan umumnya dua juta transaksi per hari.

Sejarah

Bukalapak didirikan pada tanggal 10 Januari 2010 oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Fajrin Rasyid di sebuah rumah kos semasa berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Momentum awal bagi kemajuan Bukalapak adalah dikala tren pengguna sepeda lipat melonjak pada tahun 2010. Pada kala itu, terdapat banyak komunitas yang menjajakan bermacam sepeda dan aksesorisnya bersama harga terjangkau sehingga meramaikan dan menaikkan pertumbuhan pengguna di Bukalapak secara signifikan.
Pendanaan

Setelah berdiri kurang lebih satu tahun, Bukalapak mendapat menambahkan modal dari Batavia Incubator (perusahaan kombinasi dari Rebright Partners yang dipimpin oleh Takeshi Ebihara, Japanese Incubator dan Corfina Group). Pada tahun 2012, Bukalapak terima tambahan investasi dari GREE Ventures yang dipimpin oleh Kuan Hsu. Pada bulan Maret 2014, Bukalapak memberitakan investasi oleh Aucfan, IREP, 500 Startups, dan GREE Ventures yang merupakan bagian dari pendanaan Seri A. Pada Februari 2015, Bukalapak memberitakan pendanaan Seri B bersama masuknya Grup Emtek yang punyai stasiun televisi SCTV. Emtek masuk ke Bukalapak lewat anak perusahaannya yaitu PT. Kreatif Media Karya (KMK Online). Sumber lain menyebut Emtek memang udah join sejak 2014. Baik Bukalapak maupun Emtek tidak menjelaskan berapa dana investasi yang dikucurkan. Namun, dari laporan keuangan EMTEK tahun 2015, diketahui bahwa Bukalapak udah mendapatkan dana investasi dari Emtek sampai Rp439 miliar.

Pada Januari 2019, Bukalapak memberitakan udah mendapat pendanaan dari Asia Growth Fund yang diprakarsai Mirae Asset dan Naver Corp. Meski menampik beri tambahan keterangan mengenai jumlah dana yang diperoleh, namun Mirae Asset mengkonfirmasi nilainya menggapai US$ 50 juta atau lebih kurang Rp706 miliar. Oktober 2019, Bukalapak mendapat dana dari Shinhan Financial Group Co Ltd dari Korea Selatan bersama nilai yang tidak disebutkan. Ini merupakan bagian dari pendanaan Seri F yang menggenjot valuasi Bukalapak sampai menggapai US$ 2,5 miliar atau lebih kurang Rp35 triliun. Selain Shinhan GIB, Emtek dan sejumlah investor Bukalapak di awalnya terhitung mengikuti pendanaan Seri F. Dalam laporan perusahaan Emtek yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tanggal 27 Mei 2019, PT KMK Online punyai saham 35,17% saham di Bukalapak. Seperti yang dilansri Wikipedia